[CERPEN] Pergi

2 comments


Anya mendekap erat boneka beruang sebesar tubuhnya. Ada kesibukan di siang hari yang gadis kecil itu lihat. Kak Diki, kakaknya, sibuk dan ibu menyuruhnya untuk bermain sendiri di ruang tengah. Namun, gadis kecil berusia 4 tahun itu memiliki rasa penasaran yang cukup tinggi. Walau hanya terlihat diam memperhatikan, tetapi Anya sesungguhnya sedang berpikir keras.


“Kakak mau lanjut sekolah, tapi jauh.”


“Di tempat yang jauh itu kakak punya tempat tinggal, jadi nanti nggak bisa ketemu Anya terus.”


“Karena Kak Diki nggak di rumah, jadi Anya harus jaga Ibu sama Ayah dengan cara nggak nakal, ya?”


“Kak Diki mau pergi?” Anya akhirnya mengeluarkan suaranya setelah terdiam lama di depan pintu. Gadis kecil itu menyeret boneka beruangnya untuk memasuki kamar sang kakak yang tampak berantakan dengan banyak pakaian dan koper.


Ibu pernah berkata, kalau koper digunakan untuk orang yang akan pergi jauh. Tapi dulu Anya pernah bawa koper kecil saat ke Yogyakarta berlibur ke rumah nenek. Apa Kak Diki akan ke Yogyakarta? Tapi kata Kak Diki akan melanjutkan sekolah, jadi mungkin sekolah Kak Diki dekat rumah nenek.


“Iya, Kak Diki mau pergi, Anya kok kesini, nggak main?” Ibu yang menjawab. Ia menoleh sekilas kemudian kembali sibuk memasukan pakaian ke dalam koper.


“Anya nggak mau main sendiri.” gadis kecil itu kemudian melompat keatas kasur dan meletakkan bonekanya. Lalu dia memperhatikan sang kakak yang sedang menata bukunya. “Kak Diki, ayo main.”


“Loh, Kak Diki kan mau pergi, kalau orang yang mau pergi nggak bisa diajak main.” Ibu kembali yang menjawab, Anya pun kemudian menoleh.


“Kak Diki mau pergi? Bawa koper, perginya jauh?”


Ibu berguman dan mengangguk menjawab pertanyaan Anya.


“Jauh ke rumah nenek? Nanti Kak Diki sekolahnya di deket rumah nenek?”


Pertanyaan polos Anya mengundang sang kakak untuk mendekat. Ia mengusap atas kepala Anya dengan sayang, lalu menggendong gadis kecil tersebut untuk diajak keluar.


“Mau kemana? Kak Diki, aku mau jajan.” Anya mengalungkan kedua lengannya pada leher sang kakak.


“Iya, kita beli jajan di minimarket depan ya?”


Anya mengangguk senang sekali. Betapa gadis kecil itu sangat menyayangi kakaknya. Tidak mau ditinggalkan. Kak Diki selalu mengajak Anya bermain keluar rumah. Jalan-jalan ke taman bermain bahkan sangat rutin mengajak gadis kecil itu ke wahana permainan di mall.


Namun, Anya kembali ingat. Kak Diki akan pergi, membawa koper yang berarti pergi jauh. Dan sekolahnya di dekat rumah nenek. Tapi kalau Kak Diki sekolah di dekat rumah nenek, berarti tetap akan pulang ke rumah. Karena waktu itu, Anya pernah ke rumah nenek, membawa koper dengan Ibu, Ayah dan Kak Diki juga. Tidak terlalu lama, dan mereka kembali pulang.


“Kalau Kak Diki sekolah di dekat rumah nenek, berarti nanti pulang, nggak lama kan?”


Anya melahap ice cream yang disodorkan oleh sang kakak. Kepala kecilnya ia miringkan seolah menuntut jawaban dan membiarkan Kak Diki terus menuntun jalannya.


“Sekolah kakak nggak di dekat rumah nenek,” Kak Diki tersenyum, kembali menyendokkan ice cream dan memberikannya lagi kepada adiknya.


“Terus dimana? Kan Kak Diki bawa koper, kata Ibu dulu, bawa koper itu buat orang yang mau pergi jauh, terus kita ke rumah nenek bawa koper, berarti sekolah Kak Diki jauh di dekat rumah nenek.”


Kak Diki tidak bisa menahan tawanya. Dan tidak bisa tahan untuk tidak mencubit pipi gembul Anya.


Adiknya itu begitu menggemaskan dan sangat cerdas seperti biasanya. Selalu bisa menghubungkan cerita satu sama lainnya yang pernah ia dengar. Untuk itu, pergi jauh meninggalkan Anya bukanlah hal mudah. Seperti ada yang menahan dalam hatinya, sesak dan juga tidak rela. Dan sepertinya ia pun harus hati-hati dalam menjelaskan.


“Anya, sini, kakak gendong aja ya?”


Anya menerima saja ketika kakaknya mulai menggendong. Hanya tinggal menyebrang jalanan komplek saja mereka sudah sampai di rumah. Akan tetapi Kak Diki pelan-pelan berjalan, menikmati kebersamaan yang entah kapan lagi terjadi. Bisa jadi ketika ia pulang, Anya sudah bertambah tinggi dan lebih lancar lagi bicaranya.


“Anya tau pesawat?” Kak Diki bertanya tiba-tiba.


“Tau,” jawab gadis kecil itu semangat. “Yang terbang di langit dan sopirnya namanya pilot.”


“Iya, kakak sekolahnya jauh, harus naik pesawat.”


Anya terdiam, ia memikirkan Kak Diki naik pesawat dan terbang di langit. Kenapa pesawat bisa terbang? Di langit ada awan, burung juga terbang. Nanti kalau pesawat bertabrakan dengan burung bagaimana?


Namun Anya bertanya hal lain. “Ke rumah nenek juga jauh, tapi nggak naik pesawat.”


“Berbeda dek,” Kak Diki sabar menanggapi. “Anya sayang sama Ayah juga Ibu kan?” lanjutnya mengalihkan topik.


“Iya, sayang banget, sayang Kak Diki juga.”


“Kalo sayang kakak, jaga Ibu sama Ayah, di rumah Anya nggak boleh rewel, nggak boleh nakal, harus nurut sama Ayah juga Ibu. Anya bisa kan nggak nakal?”


Anya mengangguk mantap. “Bisa, Anya kan nggak nakal.”


Kak Diki tersenyum, memeluk erat adik cerdasnya. Cita-cita dan keluarga terkadang sulit menyatu, harus ada pengorbanan disalah satunya. Seperti Diki yang harus sementara meninggalkan keluarganya untuk mengejar cita-citanya.


“Kak Diki pergi jauhnya dimana? Kok naik pesawat?” Anya dalam dekapan kakaknya bertanya pelan.


“Kakak pergi ke tempat yang orang-orang saling berbicara dengan bahasa yang berbeda dari kita, bahasanya disebut Bahasa Inggris, kalau disini siang disana malam.”


Anya tidak paham apa yang dimaksud kakaknya. Namun gadis kecil itu tidak bertanya lagi. Ia sedang memikirkan pesawat. Dulu ia pernah melihat pesawat di bandara. Kata Ayah, pesawatnya sedang parkir. Anya melihat pesawat itu besar sekali. Kenapa pesawat yang besar bisa terbang. Burung juga terbang. Kalau pesawat dan burung bertabrakan berarti burungnya nanti yang mati.


***


“Kamu hati-hati disana, jangan lupa berdoa dan jangan lupakan ibadah, ya nak.” Ibu memeluk erat anak sulungnya, ada perasaan yang sesak harus menerima kenyataan berpisah dengan anaknya.


Lalu Diki membalas pelukan wanita yang telah melahirkan dan merawatnya. Setitip air mata menetes karena tak tahan dengan sesaknya yang ia rasakan. Anya berada di samping Ibu, memeluk boneka beruangnya sambil menatapi kakaknya.


Diki semakin tidak bisa menahan isakannya. Namun Anya tidak boleh melihat kakaknya menangis. Maka dia harus menahan tangisan demi berbicara dengan adiknya.


“Anya,” Diki beralih ke adiknya setelah melepaskan pelukan ibunya. Dia sedang diburu dengan waktu, tidak bisa berlama-lama dan harus segera berangkat diantarkan Ayah ke bandara.


“Kak Diki buat ibu nangis,” kata Anya pelan. “Berarti Kak Diki yang nakal. Kakak nggak boleh pergi.”


Diki memeluk adiknya, mengecup atas kepalanya begitu sayang. “Kakak harus pergi,” katanya pelan.


“Kak Diki bilang Anya nggak boleh nakal, tapi Kak Diki yang nakal buat Ibu nangis, Kak Diki nggak boleh pergi!”


Anya sekarang menangis kencang, namun Diki harus pergi. Ayahnya sudah membunyikan klakson tanda Diki harus bearanjak pergi. Ibu pun menyuruh agar cepat pergi, hiraukan Anya yang sedang menangis kencang, biar Ibu saja yang menenangkannya. Namun Diki semakin berat meninggalkan karena melihat adiknya menangis kencang.


“Kak Diki yang nakal.”


“Kak Diki buat ibu nangis.”


“Kak Diki nggak boleh pergi.”


Anya semakin menangis kencang dan semakin kencang lagi ketika mobil berjalan keluar gerbang. Gadis kecil berusia 4 tahun itu menjerit-jerit histeris di pelukan ibunya. Ia harus mengejar mobilnya. Tapi Ibu tidak ingin melepaskan, kenapa Ibu tidak ingin Anya mengejarnya. Mobilnya terburu jauh. Dan Anya semakin histeris ketika tidak lagi melihat mobil yang ditumpangi kakaknya. Kak Diki sudah pergi.



[TAMAT]

Related Posts

2 comments

  1. Ceritanya mengharukan karena Anya sudah mengerti pada kakaknya dan kakaknya juga menyayanginya. Diki sepertinya hendak sekolah keluar negeri ya mbak.

    Jadi ingat dengan ponakan, kalo disuruh jaga adiknya malah berantem, tidak seperti Diki dan Anya, mungkin karena usia mereka masih kecil dan cuma beda tiga tahun kali ya. Ponakan saya maunya main sendiri tapi emaknya selalu nyuruh jaga, akhirnya malah adiknya dijahili biar nangis.😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe iya, Diki dapat beasiswa sekolah ke luar negeri. Pulangnya kemungkinan satu tahun sekali, pasti bakal kangen sama adiknya😍

      Haha tipikal anak kecil itu, pasti ponakannya lucu ya mas?

      Nggak juga sih, kalau emang dasarnya jail ya begitu nggak pengaruh selisih umur, tapi mungkin kakaknya kesal juga karena pingin main malah disuruh jaga adiknya. Kan adiknya jadi pelampiasan😀

      Delete

Post a Comment

Follow by Email