[CERPEN] Diary hari ini


Dalam kegelapan malam, lampu belajar menerangi sebagian sudut kamar. Di sana Leni sedang duduk dengan kusyuk, ditemani dengan secangkir coklat yang sedikit mengepul, dan pena yang kini ia goreskan ke permukaan kertas putih.

Diary hari ini.

Tertulis latin yang sangat rapih. Ia menopang dagu sebelah kiri dan mengetuk-ngetuk penanya ke meja belajar hingga berbunyi "tuk tuk tuk" yang nyaring. Kini pikirannya berkelana mengorek kembali peristiwa yang telah terjadi. Guru Bahasa Indonesia memberikan tugas menulis diary, harus dengan penuh perasaan bukan mengarang bebas. Padahal awalnya Leni ingin mengarang bebas saja, dia kurang bisa mengungkapkan perasaan ke dalam tulisan.

Guru ku memberikan tugas tentang diary yang harus dikumpul besok. Aku tidak bisa berpikir tentang apa yang harus aku tulis.

Leni langsung mencoret begitu selesai dengan akhiran titik. Ia meremas kertas itu lalu membuangnya ke dalam kotak sampah yang ternyata sudah terisi setengah dengan kepalan kertas. Ia menoleh merasa frustasi, sorot cahaya lampu belajar memperlihatkan dengan jelas ekspresi jengah yang ia tampilkan. Sampai kapan? batinnya bergejolak ingin cepat-cepat menyelesaikan tugasnya itu, sedangkan jam weker kepala micky mouse yang tergeletak di sudut dinding meja belajar sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

Menghela nafas, Leni pun kembali menyiapkan kertas kosong. Dan kembali mengawalinya dengan kalimat Diary hari ini yang sengaja ditulis serapih mungkin. Kembali tanpa ide, ia menenggelamkan kepala di celah lipatan kedua lengannya.

"Len, jadi tugas bahasa Indonesia, kamu mau buat diary tentang apa?" Pertanyaan dari teman sebangku Leni pada waktu istirahat di jam sekolah.

"Nggak tau, bingung aku tuh."

"Kalok aku mau buat diary tentang ibu."

"Ibu?"

"Iya, tentang seorang anak yang rindu dengan ibunya."

Tiba-tiba obrolan dengan teman sebangku terlintas begitu saja. Leni menegakkan duduknya, lalu bola matanya bergerak-gerak mencari sesuatu. Ia lupa, seharusnya benda yang ia cari berada di meja belajar, tetapi tidak ada. Leni mencari-cari kembali sambil mengingat frame foto yang ia letakkan di meja belajar. Terakhir yang bisa ia ingat, frame foto tersebut pecah akibat kecerobohannya saat berberes kamar.

"Nah dapat!" tanpa sadar, Leni berseru sembari mengeluarkan sebuah foto sedikit usang dengan ukuran 6x8 inchi di laci meja belajarnya. Ia menatapnya dengan seksama, sesosok kecil dalam foto itu tersenyum lebar. Leni pun menaruhnya berdiri di meja belajar dan menyandarkannya di dinding. Ia menatap lamat-lamat sesosok anak kecil dalam foto itu dan tanpa sadar senyumnya mengembang.

Sepertinya Leni sudah menemukan ide untuk tulisan diary nya. Ia pun segera menggenggam pena kembali dan menuliskan kalimat di bawah  kalimat Diary hari ini. Pikirannya kini dipenuhi dengan kenangan-kenangan sesosok anak kecil itu, ia menuliskan kalimat yang terlintas begitu pandangannya mengarah ke foto dihadapannya.

Ada sebuah foto yang sudah usang termakan usia.
Foto tersebut menampilkan anak usia 6 tahun dengan seragam merah putih dan tersenyum lebar menatap kamera.
Siapa sangka, anak kecil itu adalah aku, Leni Sadewi Putri.
Saat aku menatap dalam foto masa kecil ku, pikiran kembali melayang tentang sosok kecil diri ku delapan tahun yang lalu.
Kini aku sangat merindukannya.
Seperti ingin kembali ke masa kanak-kanak.
Karena dulu, aktivitas ku hanyalah bermain dengan teman-teman.
Ketika aku melakukan kesalahan, banyak orang yang langsung memaafkan dan tidak sedikit yang bahkan membela.
Banyak orang yang peduli dengan anak kecil berusia enam tahun.
Ayah dan Ibu juga bisa selalu ada waktu untuk mengajak anaknya jalan-jalan.
Hari-hari di masa itu tampak bahagia dan selalu ceria.
Aku sadar, tak akan bisa kembali pada masa kanak-kanak yang sudah berlalu, walau aku merindukannya kini.
Sekarang aku hanya bisa bernostalgia sembali melihat foto itu.
Dan setelahnya, aku harus kembali dengan rutinitas remaja ku kini.
Aku tidak boleh tenggelam akan kerinduan masa kecil yang menyenangkan.

Leni langsung meletakkan penanya dengan keras, lalu merenggangkan otot lengan dan menguap lebar. Matanya mulai sayu dan memerah, ia kembali membaca sebentar hasil tulisannya.

"Nggak mengesankan, aku memang kurang berbakat menulis perasaan," komentarnya sendiri, lalu mengambil gelas coklat yang sudah dingin dan meminumnya hingga tandas. "Waktunya tidur untuk mengumpulkan tenaga dan mental membacakan diary di depan kelas."


-SELESAI-


Cerita sebelumnya yang bisa kamu baca :
Next Post Previous Post
2 Comments
  • Admin
    Admin 29 September 2019 pukul 17.36

    Ngga berbakat menulis aja tulisannya udah bagus. Gimana kalau menulis sudah menjadi bakat? Duh Leni... Leni.

    Keren euy, ditunggu cerpen berikutnya.

    - Paw

    • Rita
      Rita 30 September 2019 pukul 06.15

      hahaha... thankyou sudah baca cerpennya.. ditunggu komen-komen berikutnya

Add Comment
comment url