Saatnya Berbenah Diri Dan Meningkatkan Kualitas Acara TV Menuju Migrasi Televisi Digital

Migrasi TV Digital

Migrasi televisi digital - Berita mengenai akan diberhentikannya siaran TV analog membuat sebagian masyarakat merasa resah. Sebab tidak semua TV yang mereka punya bisa support TV digital. Namun dengan perubahan migrasi tersebut, tentunya ada harapan yang terpancar oleh sebagian masyarakat terkhusus kaum muda, agar supaya mendapatkan kualitas tontonan yang lebih baik.

Mengapa demikian?

Sebab jika membicarakan kualitas, tontonan TV Indonesia masih di cap dan mendapat nilai yang jelek. Kendati demikian sudah ada beberapa acara yang semakin baik serta segelintir channel yang berkualitas, namun tetap saja karena masih dominan acara-acara tidak berkualitas membuat acara TV Indonesia 'masih' di cap tidak bermutu.

Oleh karena itulah, dengan adanya program migrasi televisi digital yang diinisiasikan kominfo ini, munculah secercah harapan terutama bagi kaum muda agar mendapat tontonan yang bermutu. Dan hal ini bisa dimanfaatkan oleh pihak stasiun TV untuk berbenah diri dan mulai mengikuti keinginan masyarakat yang sudah muak dengan acara kurang bermutu untuk mendapatkan tontonan yang berkualitas.

Dan berikut ini adalah alasan penting yang harus diketahui pihak stasiun TV mengapa mereka harus meningkatkan kualitas acara.

Alasan penting mengapa stasiun televisi harus meningkatkan kualitas acaranya

1. Fakta generasi Z dan Milenial yang mendominasi jumlah penduduk di Indonesia

Mengacu pada data hasil sensus penduduk tahun 2020 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan bahwa jumlah generasi Z (tahun lahir 1997-2012) pada tahun tersebut mencapai 75,49 juta jiwa yang setara dengan 27,94% dari total seluruh penduduk di Indonesia.

Sedangkan jumlah penduduk golongan milenial (tahun lahir 1981-1996) sebanyak 69,38 juta jiwa atau sebesar 25,87% dari total seluruh penduduk di Indonesia.

Dari data tersebutlah, tentunya stasiun TV bisa menerka kearah mana laju minat tontonan yang disukai. Apalagi karakteristik Gen Z dan Milenial yang sudah melek dengan dunia internet, bahwasannya mereka sudah tau dan paham dengan tontonan yang bagus atau tidaknya. Terlebih juga adanya gempuran dari platform youtube, platform nonton online yang sudah banyak dan lebih dulu mampu membaca minat pasar dengan meningkatkan kualitas tontonan yang diinginkan oleh gen Z dan generasi milenial.

2. Fakta bahwa saingan mulai banyak dan mulai maju

Kini, stasiun TV bukan hanya bersaing dengan youtube saja, melainkan juga platform nonton lainnya yang mulai bermunculan dan kian sengit menggaet pasar anak muda. Bahkan plaftfotm-platform tersebut semakin gencar mengeluarkan hiburan series original Indonesia dan mencoba merayu target pasar yang tepat.

3. Fakta mengenai banyaknya keluh kesah netizen di sosial media

Sudah banyak mengenai keluh kesah acara TV yang ditayangkan, baik disampaikan dengan cara lucu, menyindir, terang-terangan mengatai, bahkan mengkritik tajam hingga berujung petisi. Maka dengan adanya migrasi televisi digital ini, ada harapan dan peluang, bukan hanya mendapatkan kualitas audio dan gambar saja, namun stasiun TV harus mulai sadar dengan keluhan-keluhan dan meningkatkan kualitas acaranya untuk mendapatkan peluang yang semakin besar.

Peluang besar stasiun TV ada di depan mata

migrasi televisi digital

Dengan adanya migrasi televisi digital ini ada banyak peluang yang sebenarnya bisa menguntungkan pihak stasiun TV itu sendiri. Namun dengan catatan dibarengi dengan berbenah serta meningkatkan kualitas program acara supaya tidak kalah saing dengan platform nonton streaming yang mulai mendapat cinta dari Gen Z maupun Milenial itu.

Maka, berikut ini adalah peluang besar untuk stasiun TV di masa migrasi televisi digital yang sedang digaungkan dan rencana akan rampung pada November 2022.

1. Mengambil peluang dari perbandingan studi kasus Nielsen

Pada studi kasus Nielsen tahun 2018 menyebutkan bahwa durasi menonton TV di Indonesia masih tergolong tinggi berkisar 4 jam 53 menit setiap harinya. Sedangkan pada hasil survey yang dilakukan Nielsen media selama kebijakan bekerja di rumah atau WFH, juga menyebutkan jika warga Jakarta paling banyak menonton TV.

Dari sinilah stasiun TV bisa mengambil peluang untuk gencar menarik penonton dengan merubah kualitasnya. Bukan hanya masih di zona nyaman, sebab perbandingan orang Indonesia berselancar di internet pun semakin tinggi, yaitu pada tahun 2018 saja durasi mengakses internet menjadi tertinggi kedua yaitu rata-rata 3 jam 14 menit perharinya.

Belum lagi pada survei MarkPlus yang menyebutkan jika penggunaan Pay TV selama pandemi covid-19 mengalami peningkatan dari 22,7% menjadi 26,4% serta penggunaan free online streaming juga meningkat dari 51,8% menjadi 56,4%.

Sehingga bisa ditarik kesimpulan, bahwa peluang TV untuk menggaet penonton itu masih ada, namun dengan persaingan yang kian sengit juga. Bisa dibayangkan, mengapa masyarkat lebih suka membayar untuk menonton acara, yang jelas-jelas ada TV yang bisa dinikmati dengan sajian gratis?

2. Mengambil peluang dari Sumber Daya Manusia (SDM) yang kian mumpuni

"Acara TV masih gitu-gitu aja, ya karena Indonesia masih kekurangan SDM kreatif dan inovatif!"

Semua orang sudah tidak setuju dengan kalimat seperti itu. Sebab banyak kreator di Indonesia yang memiliki rekam jejak hebat dalam memberikan tontonan berkualitas untuk masyarakat. Terbukti dengan banyaknya web series Indonesia yang bertebaran di platform online youtube. Belum lagi series-series lain di platform nonton online. SDM dalam dunia perfilman atau pembuatan konten kreatif di Indonesia sudah banyak. Keahlian mereka pun tidak kalah hebat dari luar. Sehingga bisa dimanfaatkan pihak stasiun TV untuk bekerjasama dan membuka peluang lebih besar hingga mancanegara.

3. Mengambil peluang dari migrasi televisi digital

Perubahan televisi analog ke televisi digital memberikan perubahan terutama dalam kualitasnya. Kejernihan gambar serta audio pada televisi digital ini bisa dimanfaatkan oleh pihak stasiun TV untuk berbenah diri, membuat acara yang semakin bagus dan semakin berkualitas, membuat hiburan tanpa membuli juga menyinggung SARA, berita yang netral, infotainment yang menginspirasi, drama dengan kualitas cerita serta akting yang mumpuni, serta variety show dan reality show yang diselipi unsur mendidik.

Penutup

Televisi masih menjadi media penghubung masyarakat yang sangat penting. Sebab jaringan internet di seluruh Indonesia belum merata, jadi sebagian orang masih memanfaatkan televisi untuk melihat berita ataupun hiburan.

Dengan hal ini, mestinya stasiun TV melihat peluang serta arah laju baru. Bisa melihat fakta yang ada atau survey dan beberapa pendapat ahli. Sehingga perubahan besar yang nantinya terjadi, bisa diantisipasi dengan cara sekarang yang mulai perlahan-lahan mengikuti minat pasar baru yang akan mendominasi kedepannya.

Maka, saatnya berbenah dan meningkatkan kualitas acara, sebab perubahan akan selalu ada, seperti halnya pada perubahan siaran televisi analog yang sudah mengudara hampil 60 tahun harus tergantikan dengan siaran televisi digital.

Mari maksimalkan perubahan ini untuk membuat konten yang berkualitas dan lebih bermutu.


Sumber :

  1. https://money.kompas.com/read/2021/01/22/145001126/generasi-z-dan-milenial-dominasi-jumlah-penduduk-indonesia?page=all
  2. https://economy.okezone.com/read/2019/03/05/320/2025987/studi-nielsen-pemirsa-indonesia-habiskan-5-jam-nonton-tv-3-jam-berselancar-di-internet
  3. https://mediaindonesia.com/megapolitan/329289/survei-warga-jakarta-paling-banyak-menonton-tv-saat-wfh
  4. https://money.kompas.com/read/2020/06/05/192900026/survei-markplus--streaming-dan-tv-berbayar-jadi-idola-masyarakat-selama-covid

Next Post Previous Post
2 Comments
  • Agus Warteg
    Agus Warteg 14 Agustus 2021 15.30

    Jadi mulai tanggal 17 Agustus nanti tv analog sudah tidak ada ya. Padahal aku masih pakai lho.

    Memang sih kalo dilihat, kualitas tayangan televisi lokal masih banyak yang gitu gitu aja, kalo soal SDM kayaknya enggak ya, sudah banyak kok program acara di YouTube yang bagus, berarti stasiun televisi perlu meningkatkan kualitas tayangan nya

    • Rita
      Rita 14 Agustus 2021 20.01

      Masih ada, kan migrasi nya bertahap mas, prediksinya sih sampai November 2022.

      Iya betul, sekelas televisi seharusnya mampu memaksimalkan SDM yang ada. Bahkan platform nonton online aja sudah bisa memaksimalkan SDM dari Indonesia untuk diajak bekerjasama. Banyak kok kreator yang kreatif dan inovatif sekarang ini. Cuma mereka kayanya banyak yang 'main' sendiri, contohnya di youtube. Kalo singkron antara pihak stasiun tv dan si kreator pasti bakal booming, tapi ya itu pihak stasiun tv mesti merubah alur untuk meningkatkan kualitas acara jangan berpegang terus sama pasar lama

Add Comment
comment url